Kenapa Nias Layak Masuk Daftar Kunjunganmu? Ini Cerita dan Pengalamanku

Ikuti pengalaman seru 4 hari 3 malam menjelajahi Pulau Nias. Temukan rekomendasi tempat wisata budaya, penginapan estetik, Pantai Sorake, dan kuliner. Medan merupakan ibu kota dari Provinsi Sumatera Utara, dan di kota ini tinggal beraneka ragam suku serta budaya.
Home Travel Travel Journey

Pengalaman Seru 4 Hari 3 Malam: Panduan Wisata, Budaya, dan Kuliner Khas Pulau Nias

Omo Hada atau Rumah Adat Nias Hada, Sebernag RRI Gunung Sitoli

Medan merupakan ibu kota dari Provinsi Sumatera Utara, dan di kota ini tinggal beraneka ragam suku serta budaya. Sebagai masyarakat lokal di Kota Medan, Sumatera Utara, aku tentu familiar dengan berbagai suku yang bertetangga denganku, antara lain Suku Batak, Suku Melayu, Suku Jawa, Suku Nias, dan beberapa kelompok budaya lainnya. 

Kali ini, aku akan membahas secara khusus tentang budaya Suku Nias. Masyarakat lokal Nias cukup unik,   mulai dari bahasa asli yang mereka miliki, hal itu sudah membuatku penasaran tentang dari mana asal-usul budaya ini. Selain itu, perawakan wajah mereka mirip dengan orang Tionghoa, tetapi mereka mengaku bukan orang Tionghoa dan tidak bisa berbahasa Hokkien atau Mandarin. Hal-hal unik inilah yang membuatku penasaran dan ingin tahu lebih banyak tentang budaya Suku Nias, serta tentunya masakan tradisional dari pulau ini.

Akhirnya, aku memutuskan untuk mendatangi Pulau Nias yang jaraknya cukup dekat jika menggunakan pesawat, tetapi membutuhkan waktu perjalanan sekitar 17 jam jika menggunakan kombinasi transportasi darat dan laut. Informasi lengkap mengenai cara menuju pulau ini melalui rute darat dan laut sudah kubagikan secara terpisah.

Sekarang, aku ingin berbagi cerita tentang apa saja yang kulakukan sejak hari pertama menginjakkan kaki di Pulau Nias. Aku tiba di Pulau Nias pada pagi hari sekitar pukul 07.00 WIB. Sambil menunggu kapal bersandar di Pelabuhan Nias, tepatnya di Gunungsitoli, aku menghabiskan waktu untuk melihat proses bongkar muat barang serta mengantri turun bersama penumpang lainnya. 

Di benakku, ternyata ramai juga orang-orang yang naik kapal untuk menyeberang ke Pulau Nias. Ketika melihat logistik yang mereka bawa, ternyata banyak sekali bahan baku yang dibeli dari Kota Medan untuk dibawa ke pulau ini, contohnya saja buah-buahan segar. Wah, pikirku, apakah di Pulau Nias tidak banyak masyarakat yang membudidayakan buah segar? Namun, berbagai barang logistik yang dibawa menyeberang tersebut memperjelas bahwa komoditas tertentu memang harus didatangkan dari luar Pulau Nias.

Setelah turun dari kapal, aku masih sempat melihat kemegahan kapal milik perusahaan Wira Jaya Lines ini. Ukurannya cukup besar, bahkan sedikit lebih besar daripada kapal perintis yang pernah ku naik sebelumnya. Jarak dari tempat kapal bersandar menuju pintu keluar pelabuhan cukup jauh, tetapi bisa ditempuh kurang dari 5 menit saja. Tentu saja, sama seperti dermaga di pelabuhan lainnya, ada banyak orang yang menawarkan jasa untuk mengantar pengunjung ke tempat tujuan. Aku pribadi tidak menggunakan jasa mereka karena aku akan dijemput oleh seorang teman yang merupakan masyarakat lokal asli Nias bernama Rituel Daeli, kalian bisa menyapanya dan ia bisa mengajari kalian lancar berbahasa Inggris.

Rituel Daeli dan Penulis di Desa Bawomataluo

Rituel menjemputku di pintu depan pelabuhan, dan petualangan pun resmi dimulai. Karena hari masih pagi, tentu saja aku harus meletakkan barang-barang terlebih dahulu, dan kami pun segera menuju penginapan yang sudah dipesan. Setibanya di penginapan, aku merasa sangat senang karena Rituel memilih Museum Pusaka Nias sebagai tempatku menginap selama dua hari. Tempat ini membuatku takjub, karena rasanya bukan sekadar menginap biasa, melainkan seperti masuk ke dalam sebuah kerajaan Nias di mana semua benda bersejarah tersimpan di satu kawasan yang sama.

Untuk kamarnya, aku memilih tipe Single Room, yang artinya satu kamar dirancang cukup untuk satu orang dengan harga Rp150.000 per malam. Fasilitas kamar mandinya berada di luar kamar namun tidak begitu jauh, serta menggunakan kipas angin, sehingga harganya sangat hemat di kantong. Walaupun fasilitasnya terlihat sederhana, kalian pasti akan dibuat takjub saat melihat penampilan fisik kamar ini dari depan.

Penginapan ini tidak menggunakan tembok batu, melainkan dibangun dari kayu yang sangat estetik dan kokoh banget. Sebelum membahas lebih lanjut, aku memasukkan Museum Pusaka Nias ini sebagai salah satu rekomendasi utama tujuan wisata dan akan mengulasnya secara lebih mendalam di bawah ini.

1. Museum Pusaka Nias Lodge

Salah satu kamar penginapan di Museum Pusaka Nias

Dari namanya, kalian pasti sudah bisa membayangkan bahwa tempat ini bukan sekadar penginapan biasa, melainkan juga berfungsi sebagai museum sekaligus. Saat pertama kali tiba di penginapan ini, aku cukup terkesima karena tidak seperti gedung hotel pada umumnya, tempat ini justru mirip seperti sebuah resor yang asri.

Fasilitas menarik yang didapatkan jika kalian menginap di penginapan ini adalah akses gratis masuk ke dalam Museum Pusaka, yang di dalamnya menyimpan banyak sekali benda-benda sejarah berharga. Sebenarnya, hanya dengan tinggal di penginapan ini saja, kalian sudah bisa langsung belajar budaya Nias secara langsung. Kompleks museum ini cukup luas, tidak hanya berisi benda-benda bersejarah, tetapi juga terdapat kebun binatang mini yang menampung hewan-hewan endemik khas Pulau Nias. Wah, seru banget, kan? Di area museum, juga ada petugas yang dengan senang hati menceritakan latar belakang budaya Suku Nias kepada para pengunjung.

Seperti apa menginap di Rumah Adat Nias?

Tonton keseruan selengkapnya di video YouTube berikut ini:

Selain museum dan kebun binatang mini, kalian juga bisa melihat Rumah Adat Nias yang khas, terbuat dari kayu, dan bentuknya mirip sekali dengan rumah-rumah kuno tradisional. Rumah adat ini bukan sekadar pajangan, melainkan bisa kalian tinggali sebagai tempat menginap. Dengan kata lain, kamar-kamar penginapan di Museum Pusaka Nias Lodge memang sengaja dibuat menyerupai rumah adat asli. Di dalam penginapan berbentuk rumah adat ini, interiornya juga dipenuhi pajangan bernilai sejarah tinggi, sehingga kalian tidak sekadar menginap sebagai tamu, melainkan seolah masuk ke dalam atmosfer kerajaan Nias secara instan.

Halaman Belakang Museum Pusaka Nias

Penginapan berbentuk rumah adat ini biasanya diperuntukkan bagi kapasitas minimal dua hingga enam orang. Jadi, jika kalian bepergian seorang diri, kalian bisa memilih kamar tipe single seperti yang kupakai agar harganya lebih terjangkau, sementara kamar berbentuk rumah adat Nias dibanderol mulai harga Rp600.000 per malam. Kalian juga bisa memperbarui informasi mengenai harga serta ketersediaan kamarnya melalui aplikasi pemesanan penginapan favorit masing-masing.

Tampak depan kamar kapasitas satu orang di Museum Pusaka Nias

Halaman di Museum Pusaka Nias ini juga ditata sedemikian rupa dan dibuat mirip seperti tatanan halaman istana kerajaan Nias. Di bagian halaman yang menghadap langsung ke arah laut, terdapat batu-batu serta meja khas zaman megalitikum. Batu tersebut dibentuk sedemikian rupa menjadi kursi dan meja agar bisa diduduki oleh para tamu. Konon katanya, kursi dan meja dari batu yang ditaruh di halaman rumah pada masa lampau menandakan bahwa pemilik rumah tersebut adalah orang yang terhormat, dan para tamu yang datang akan dipersilakan duduk di kursi batu itu.

Aku sendiri memanfaatkan waktu pagi hari untuk menikmati sarapan yang sudah termasuk dalam harga kamar, sambil duduk di kursi dan meja batu yang menghadap ke lautan luas. Dari halaman ini, kalian bahkan bisa melihat pelabuhan tempat turun dari kapal sebelumnya, karena jarak antara Museum Pusaka Nias dan pelabuhan hanya sekitar 5 menit berkendara saja.

Alamat: Komplek Museum Pusaka Nias, Jalan Yos Sudarso, Gunungsitoli.


2. Rumah Adat Nias di RRI Gunungsitoli

Pemandangan Kota Gunung Sitoli dari Halaman Omo Hada, RRI Gunung Sitoli

Belum puas menikmati rumah adat yang difungsikan sebagai tempat menginap, aku juga diajak untuk melihat rumah adat asli Suku Nias yang memang masih dihuni oleh keturunan dari pemilik aslinya. Lokasinya berada di Desa Iraonogeba. Bentuk bangunannya mirip sekali dengan yang kulihat di Museum Pusaka Nias, yakni berupa rumah panggung yang terbuat dari kayu dengan tinggi jarak antara tangga bawah dan lantai pertama sekitar 1 hingga 1,5 meter. Di sekitar kawasan rumah adat ini, kalian bisa menyaksikan pemandangan Kota Gunungsitoli serta hamparan laut luas yang sangat indah karena letaknya berada di dataran yang cukup tinggi.

Tidak hanya melihat arsitektur rumah adatnya, di sini kalian juga bisa memesan makanan ringan atau minuman sederhana sambil menikmati panorama pesisir pantai Nias dari ketinggian. Tidak dikenanakan biaya masuk ya di Rumah Adat Nias yang satu ini. Kalau kalian ingin mampir ke tempat ini, tinggal arahkan saja peta penunjuk jalan digital ke RRI Gunungsitoli. Ketika tiba di depan kantor RRI Gunungsitoli yang ditandai dengan adanya menara pemancar radio, kalian akan langsung melihat rumah adat tersebut karena posisinya berada tepat di seberangnya.

Alamat RRI Gunungsitoli: Jalan Iraonogeba, Desa Iraonogeba, Kecamatan Gunungsitoli, Kota Gunungsitoli, Pulau Nias.

3. Berkunjung ke Pantai Sorake

Merasa penasaran dengan destinasi pantai yang sudah mendunia sebagai surga para peselancar, berkunjung ke Pantai Sorake saat menginjakkan kaki di Pulau Nias tentu menjadi sebuah keharusan yang tidak boleh dilewatkan. Karena letak Pantai Sorake ini cukup jauh dari pusat Kota Gunungsitoli, maka pada hari kedua aku melakukan check-out dan memilih untuk pindah penginapan ke daerah Nias Selatan. Perjalanan dari Kota Gunungsitoli yang biasa disingkat oleh masyarakat lokal sebagai Gusit, membutuhkan waktu sekitar 4 jam berkendara untuk satu kali jalan. Aku mulai berangkat pukul 10.00 pagi dari Kota Gunungsitoli.

Perjalanan menuju Pantai Sorake ini kulakukan menggunakan sepeda motor ya teman-teman. Jadi, jika kalian tidak memiliki kendaraan pribadi di sana, sebaiknya menyewa sepeda motor yang biasanya bisa dibantu pengurusannya melalui resepsionis tempat kalian menginap agar perjalanannya jauh lebih aman dan terkoordinasi.

Perjalanan darat dari Gusit menuju Pantai Sorake secara garis besar akan melewati 4 titik utama yang bisa kalian jadikan tempat beristirahat sejenak, mengingat duduk di atas motor selama 4 jam tentu membuat badan dan pinggang terasa pegal.

Titik Perhentian Menuju Nias Selatan:

  • Pemberhentian Pertama: Sebuah pasar tradisional bernama Pasar Tetehosi yang terletak di dekat kawasan Jembatan Idanogawo. Di sini, kalian bisa berhenti sejenak untuk sekadar membeli jajanan ringan karena rutenya melewati pasar yang dipadati penjual makanan di sisi kanan dan kiri jalan.
  • Pemberhentian Kedua: Kawasan Lahusa. Di tempat ini, aku sempat mampir sebentar ke gerai Alfamidi untuk menumpang fasilitas toilet guna menyegarkan diri.
  • Pemberhentian Ketiga: Puncak Genasi. Di titik ini, kami memutuskan untuk beristirahat agak lama, sekitar satu jam. Di Puncak Genasi terdapat rumah makan yang cukup unik karena di depannya berdiri sebuah pohon beringin besar. Rumah makan ini menyediakan menu sederhana seperti mi instan, karena aku tidak melihat adanya menu lauk makanan berat di sana, serta kita juga bisa memesan kopi hangat. Tersedia pula fasilitas toilet atau kamar mandi yang bersih di rumah makan tersebut.
Pohon Beringin khas Puncak Genasi Nias Selatan
  • Titik Keempat: Setelah beristirahat di Genasi, sisa perjalanan menuju Nias Selatan tinggal seperempat perjalanan lagi. Kota di Nias Selatan ini bernama Teluk Dalam. Setibanya di sana, kami langsung mencari tempat makan nasi karena selama 4 jam perjalanan praktis belum sempat makan nasi berat.

Secara keseluruhan, rute perjalanan darat dari Kota Gunungsitoli menuju Kota Teluk Dalam di Nias Selatan memang cukup jauh, tetapi kondisi jalannya tidak terlalu sulit karena jalurnya cenderung lurus dan hampir tidak banyak tikungan tajam. Kendati demikian, kalian tetap disarankan menggunakan aplikasi peta digital untuk memandu arah perjalanan menuju Kota Teluk Dalam.

Setibanya di Teluk Dalam, menurutku suasana kotanya terasa lebih ramai dibandingkan Gunungsitoli, dengan pilihan rumah makan yang terlihat lebih beragam di sepanjang jalan. Selesai makan siang, kami langsung melanjutkan perjalanan menuju Pantai Sorake dan tiba di sana sekitar pukul 4 sore. Waktu itu suasana masih cukup terang, sehingga kami bebas memilih dan mencari penginapan yang lokasinya tepat berada di hamparan bibir Pantai Sorake.

Sesampainya di sana pada sore hari, aku tidak melihat banyak peselancar beraksi di Pantai Sorake,  mungkin pemandangan yang ramai baru bisa dijumpai pada pagi hari, pikirku saat itu.

Pilihan penginapan di sekitar Pantai Sorake terbilang cukup banyak karena berderet sepanjang garis pantai, begitu pula dengan jejeran tempat makan, jadi kalian benar-benar tidak perlu merasa khawatir kesulitan mencari fasilitas umum. Karena banyaknya pilihan penginapan di sepanjang pantai, kisaran harganya pun cukup bersaing, mulai dari Rp150.000-an per malam. Kalian bisa langsung memesannya setiba di lokasi atau melalui aplikasi pemesanan daring.

kalau kalian berminat untuk tinggal di Penginapan yang disukai oleh Turis mancanegara selama berolahraga selancar di Pantai Sorake biasanya mereka memilih penginapan Kabunohi start harga kamarnya menyesuaikan dengan tarif Bule ya, namun berdasarkan info dari pemilik mereka tetap akan menyesuaikan kok jika yang inginmenginap adalah warga lokal, atau sekedar menikmati Sarapan di Kabunohi juga sangat aku rekomendasikan :)

Aktivitas apa saja yang kulakukan di Sorake? Tentu saja menikmati suasana malam dan makan malam, mengingat kami tiba menjelang malam hari. Di sekitar lokasi tempat makan, aku sempat melihat beberapa turis mancanegara sedang bersantap, suasananya cukup hidup dan ramai.

Keesokan paginya, aku berkesempatan berjalan-jalan menyusuri garis Pantai Sorake untuk menyaksikan aktivitas selancar dari jarak yang lebih dekat. Tentu saja, aku tidak ikut berselancar! Pemandangan pagi hari di sepanjang bibir Pantai Sorake yang kulihat adalah banyaknya orang berdiri sambil memegang kamera berukuran besar, jenis lensa tele yang biasanya dipakai untuk memotret objek dari jarak jauh namun bisa menghasilkan tangkapan gambar sangat detail. Dan benar saja, awalnya aku tidak melihat siapa pun sedang berselancar di dekat garis pantai, sampai akhirnya aku mendekati salah satu orang yang memegang kamera tersebut dan bertanya sedang memotret apa. Mereka menjawab sedang mengambil foto aksi peselancar di tengah laut. hasil gambar jepretannya bisa dilihat salah sat akun Instagram mereka disini 

Aku kemudian memerhatikan adanya struktur batuan di sepanjang pantai berbentuk undakan ubin batu yang menjorok ke arah laut. Aku mengikuti jalur ubin besar tersebut, dan dari kejauhan terlihat jelas ada banyak sekali turis asing yang sedang asyik berselancar. Ternyata, aktivitas peselancar di Pantai Sorake tidak seperti pemandangan di Bali di mana kita bisa melihat orang belajar berselancar langsung dari bibir pantai. Di sini, para peselancar berada jauh menjorok ke tengah lautan. Jadi, benar kata orang-orang bahwa belajar berselancar di Pantai Sorake bukanlah pilihan yang tepat untuk tingkat pemula, karena gulungan ombaknya jauh lebih menantang dan titik selancarnya terletak agak jauh dari daratan.

Selanjutnya, kami melakukan check-out sebelum pukul 10.00 pagi untuk menuju destinasi wisata berikutnya yang letaknya tidak terlalu jauh, hanya sekitar 30 menit hingga 1 jam perjalanan saja untuk mencapai Desa Bawomataluo, tempat di mana tradisi lompat batu yang ikonik berasal.

4. Desa Bawomataluo

Pintu Gerbang memasuki desa Bawomataluo

Setibanya di Desa Bawomataluo, pengunjung akan langsung disambut oleh undakan anak tangga yang super panjang untuk bisa memasuki kawasan desa adat ini. Saat menaiki anak tangga tersebut rasanya cukup melelahkan, tetapi begitu sampai di bagian atas, pemandangan yang tersaji benar-benar serasa di negeri donggeng dan membuatku terpukau seketika.

Sebelum masuk lebih jauh menyusuri perkampungan yang indah ini, pengunjung terlebih dahulu diwajibkan membayar tiket masuk serta bisa memesan penyewaan pakaian adat jika ingin mengenakan busana tradisional khas Nias selama berjalan-jalan menyusuri desa.

Berbeda dengan Pantai Sorake yang bisa dikunjungi kapan saja tanpa batasan waktu ketat, wisata ke Desa Bawomataluo memiliki jam operasional resmi, yakni mulai pukul 08.00 hingga 18.00 WIB. Biaya tiket masuknya berkisar Rp20.000 per orang, sementara jika ingin meminjam pakaian adat, tarif sewanya sekitar Rp25.000 per orang dengan perlengkapan yang sudah lengkap.

Tampak Depan Omo Sebua di Desa Bawomataluo

Aku pribadi memilih untuk mencoba mengenakan pakaian adatnya, berjalan menyusuri Desa Bawomataluo bak seorang putri Nias seharian, dan mengabadikan banyak foto di setiap sudut desa yang sangat estetik ini. Hal yang unik dari desa ini adalah bentuk arsitektur bangunan rumah adat utamanya yang disebut sebagai Omo Sebua, atau dalam bahasa Nias diartikan sebagai rumah besar dan megah. Tidak jauh dari lokasi Omo Sebua, terdapat batu besar yang digunakan untuk tradisi Fahombo, yakni sebutan dalam adat Nias untuk ritual lompat batu.

Menggunakan lesung sedang menggiling Kopi, di Warung Kopi dan Salon di Desa Bawomataluo

Selain itu, rumah-rumah penduduk yang berderet rapi di desa ini memiliki bentuk arsitektur yang seragam menyerupai Omo Sebua, hanya saja dengan ukuran yang sedikit lebih kecil. Di samping batu untuk tradisi lompat batu, Pulau Nias juga menyimpan banyak peninggalan sejarah berupa batu purba di Desa Bawomataluo. Berbagai batu megalitikum yang ada di Nias tidak dapat dipisahkan dari tatanan adat istiadat masyarakatnya. Konon, pahatan pada batu-batu tersebut menceritakan banyak kisah sejarah melalui corak pahatannya. Seperti yang kusebutkan sebelumnya, jika ada kursi dan meja dari pahatan batu di depan rumah yang menandakan status sosial pemiliknya, maka di depan Omo Sebua juga terdapat meja dan kursi dari batu pahatan berukuran besar, kokoh, dan berwarna hitam.

Selama menjelajahi desa ini, rasanya aku seperti berada di dunia yang berbeda, seolah melompat mundur ribuan tahun ke masa lalu. Sayangnya, hingga tulisan ini dibuat, Desa Wisata Bawomataluo belum mendapatkan pengakuan resmi dari UNESCO. Semoga ke depannya destinasi ini bisa segera ditetapkan sebagai salah satu warisan budaya dunia.

5. Kota Gunungsitoli

Karena ini merupakan destinasi penutup rangkaian perjalanan, menghabiskan sisa waktu kembali di Kota Gunungsitoli bisa menjadi pilihan yang sangat tepat. Ada banyak tempat menarik yang bisa dikunjungi di kota ini selain Museum Pusaka Nias dan RRI Gunungsitoli, di antaranya:

  •  Pusat Belanja Oleh-Oleh di Kota Nias

Di tempat ini, aku membeli satu set pakaian atasan dan bawahan yang memiliki motif gambar tradisi lompat batu Pulau Nias. Harganya terbilang agak lebih mahal jika dibandingkan dengan suvenir serupa saat berkunjung ke Yogyakarta, Bali, atau Padang, berkisar Rp100.000 per set, yang biasanya di tempat lain mungkin hanya seharga Rp35.000. Namun, demi mendapatkan baju bernuansa motif lompat batu khas Nias tersebut, aku tetap membelinya dengan senang hati.

  • Cafe Hili

Dari kafe ini, kalian bisa menyaksikan pemandangan lanskap Kota Gunungsitoli dari ketinggian sambil menikmati berbagai kudapan dan minuman segar. Wah, jangan lewatkan kesempatan untuk mendarat dan mampir ke kafe ini jika kalian sedang berkunjung ke Gunungsitoli, Nias. kalian bisa lihat lokasi dan pemandangan kota nias dari Hili Cafe melalui media sosial Instagramnnya @Hilicafe

Berkumpul bersama Teman di Hili Cafe Gusing Sitoli, Nias

  • Hotel Kaliki

Di hotel ini, pengunjung tidak hanya bisa menginap tetapi juga datang hanya untuk menikmati pemandangan indah langsung dari area halamannya. Halaman hotel ini tergolong cukup luas dan dilengkapi dengan restoran, sehingga para tamu bisa menikmati aneka hidangan dan minuman sambil memandangi hamparan lautan luas dari area hotel. Uniknya lagi, hotel ini tercatat pernah menjadi salah satu tempat penginapan pilihan mantan Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, saat melakukan kunjungan kerja ke Pulau Nias.

Pemandangan dari halaman Hotel Kaliki gunung Sitoli

  • Sitekata Resto & Cafe

Menikmati malam di kota Gunung Sitoli, kita bisa berbaur dengan warga lokal disini sambil menikmati kudapan dan minuman sambil ngobrol santai di cafe dan resto ini, harga nya juga bersahabat loh.

Suasana Sitekata Resto & Cafe

Makanan Tradisional Khas Nias

Kuliner tradisional khas Nias yang sempat kucoba dan nikmati bernama Nifale Ikan. Perlu diketahui, Nifale sendiri sebenarnya merujuk pada nama teknik atau cara memasak khas Nias. Metode ini tidak hanya bisa diterapkan pada ikan, melainkan bisa juga menggunakan daging ayam maupun daging sapi dan biasanya lebih sering menggunakan daging babi. Namun, kali ini aku mencoba menu Nifale yang dimasak menggunakan Ikan Sunu atau ikan merah laut yang memang sudah terkenal dengan kelezatannya.

Ikan Nifale, masakan tradisional khas Nias

Pulau Nias merupakan wilayah kepulauan, sehingga hasil tangkapan ikan lautnya dipastikan selalu dalam kondisi segar. Saat melihat penampakan hidangan Nifale Ikan untuk pertama kalinya, aku melihat potongan ikan tersebut diselimuti oleh taburan serutan kelapa. Secara pribadi, aku kurang begitu menyukai serutan kelapa pada makanan gurih karena biasanya lebih memilih olahan yang menggunakan kuah santan saja. Serutan kelapa pada hidangan Nifale ini tampilannya sekilas mirip dengan taburan kelapa parut di atas urap sayur.

Oleh karena itu, ketika hidangan ini disajikan, awalnya aku hanya berniat mencicipinya sedikit saja. Namun, begitu kucoba suapan pertamanya, wah, aku ternyata salah besar! Hidangan ikan ini rasanya enak banget, guys, sampai-sampai aku meminta tambahan porsi dan menikmati menu ikan dimasak Nifale ini dengan sangat lahap.

Kalian bisa memesan menu masakan Ikan Nifale ini di Kafe Hili, meskipun sepertinya kalian perlu melakukan reservasi terlebih dahulu agar bisa menikmati sajian kuliner tradisional tersebut di sana.

Ikan Nifale ini juga menggambarkan warna khas budaya Nias yaitu Ikan Merah mewakili warna merah, serutan kelapa kuning karena rempah kunyit mewakili warna kuning dan sambal Ikan Nifale ini berwarna hitam dari cabe hijau yang menghitam setelah digiling mewakili warna hitam. jikan kalian ke Pulau Nias maka warna Kuning, Merah, Hitam akan mudah sekali terlihat begitu juga di baju adatnya didominasi ketiga warna ini. ternyata warna-warna ini memiliki filosofi makna loh. bersyukur aku bisa tanyakan langsung ke pemandu di dalam Museum di Penginapan Museum Pusaka Nias, dimana Kuning mewakili Emas melambangkan kekayaan, kemuliaan, kebesaran, dan kesuksesan yang dulunya warna kuning sering dipakai oleh kaum bangsawan atau raja. Merah mewakili Darah melambangkan keberanian, kekuatan, kekuasaan, dan semangat para pejuang Nias. Hitam mewakili Tanah melambangkan tanah air yang subur serta ketabahan dan kerja keras masyarakatnya.

Menceritakan kembali pengalaman berwisata ke Pulau Nias ini membuatku ingin segera kembali ke sana, karena tentunya masih ada banyak sekali destinasi menarik lainnya yang belum sempat dikunjungi di pulau ini. Jadi, bagi kalian yang baru pertama kali berkunjung ke Nias dan memiliki alokasi waktu sekitar 4 hari 3 malam, panduan perjalanan atau itinerary yang aku sajikan ini bisa menjadi inspirasi awal untuk mulai mengenal Nias beserta kekayaan budayanya.

Demikian cerita perjalananku serta rekomendasi tujuan wisata di Pulau Nias. Artikel aku lainnya juga memudahkan kalian untuk menuju tempat liburan favorit check out kumpulan artikel perjalanan aku. Jika ada pertanyaan seputar cara menuju ke Pulau Nias maupun destinasi wisatanya, silakan tinggalkan pesan di kolom komentar di bawah ini, dan akan kujawab secepatnya. Mari berkenalan dan berteman juga di berbagai platform media sosial seperti YouTube, Instagram, Pinterest, dan TikTok dengan nama akun Ayudelight. Sampai jumpa di cerita perjalanan berikutnya! 

Salam hangat, 
Ayudelight 

Itinerary 4 Hari 3 Malam: Pesona Pulau Nias
Hari 1: Gunungsitoli & Museum Pusaka
Tiba di Pelabuhan Gunungsitoli, lanjut menginap di Museum Pusaka Nias Lodge (Rp150.000/malam) yang menawarkan kamar estetik, lengkap dengan akses gratis museum dan kebun binatang mini.
Hari 2: Perjalanan ke Nias Selatan & Sorake
Berkendara motor sekitar 4 jam melewati Puncak Genasi menuju Pantai Sorake. Bermalam di penginapan sekitar pantai (mulai Rp150.000/malam) sambil menikmati suasana malam.
Hari 3: Desa Adat Bawomataluo
Tiket masuk desa adat Rp20.000, sewa baju adat Rp25.000. Melihat tradisi lompat batu (Fahombo), arsitektur megah Omo Sebua, lalu kembali ke Gunungsitoli.
Hari 4: Kuliner & Landmark Kota
Menikmati kuliner tradisional Ikan Nifale di Hili Cafe, bersantai di Hotel Kaliki, dan membeli suvenir baju motif lompat batu (Rp100.000).
Estimasi Total Biaya (Akomodasi & Aktivitas Utama)
Penginapan 3 Malam (±Rp450.000) + Tiket Masuk & Sewa Baju Adat Desa Bawomataluo (Rp45.000) + Suvenir Pakaian Nias (Rp100.000) = ±Rp595.000 (di luar biaya transportasi utama,bensin dll, transportasi dari Medan serta konsumsi/makan harian serta ini untuk Solo Travel).

Hi, aku Ayu!

Lahir dan besar di Medan, Indonesia, aku adalah kreator di balik ayudelight.com. Terima kasih sudah membaca panduan lengkap travel & kuliner, serta koleksi resep masakan autentik dari perjalananku. Aku sangat senang kalian ada di sini!

Temukan artikel lainnya yang mungkin kamu suka di bawah ini!

Komentar

Selamat Datang!

Ayudelight

Meet Ayudelight

Terima kasih telah berkunjung ke ayudelight.com! Saya adalah "Adventurer Chef" di website ini yang bertualang mencari kuliner autentik serta mendokumentasikan setiap perjalanan dan resep masakan. Semoga panduan travel dan jurnal memasak ini bermanfaat.

POPULAR RIGHT NOW!