Agoda

Bagi Suku Karo, Mendapatkan Durian Segar atau Durian Busuk Sama Bahagianya!


Resep Legendaris Gulai Asam Durian, Warisan Kuliner Leluhur Suku Karo Sumatera Utara

Bicara tentang kearifan lokal merupakan tema yang sangat aku minati, khususnya yang berkaitan dengan sejarah kuliner Nusantara, sejarah warisan rumah adat, serta benda-benda bersejarah yang menjadi identitas suatu masyarakat. Rasa ingin tahu tentang asal-muasal lahirnya sebuah tradisi, termasuk makanan khas daerah, selalu memberikan kepuasan tersendiri di hati aku.

Apalagi ketika mendengar langsung penjelasan dari pemandu wisata atau orang-orang tua setempat tentang asal-usul sebuah sejarah. Cerita-cerita nyata seperti itu bukan hanya menambah pengetahuan, tetapi juga meninggalkan rasa yang dalam di hati. Dari sana aku belajar, mana tradisi yang masih bisa diulang dan diteruskan hingga masa depan, serta mana yang cukup disimpan sebagai kenangan karena dampak buruknya bila diterapkan di zaman sekarang.

Kenangan sejarah yang sudah tidak relevan dengan perkembangan zaman bukan untuk dimusnahkan, melainkan sebaiknya dijadikan pengingat. Ia menjadi penanda bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi, dan dari sanalah kita bisa belajar untuk melangkah dengan lebih bijak di masa depan.


Warisan Kuliner Leluhur Suku Karo yang Terjaga Hingga Kini

Berkaitan dengan kearifan lokal dan warisan budaya turun-temurun, kali ini aku ingin membagikan salah satu warisan kuliner lokal dari leluhur aku yang berasal dari Suku Karo, Sumatera Utara. Sebuah resep Indonesia yang mungkin terdengar unik bagi sebagian orang, namun sangat akrab dan membanggakan bagi kami.

Nama masakan ini adalah Gulai Asam Durian.

Gulai Asam Durian Udang

Dari namanya saja, pasti sudah bisa ditebak salah satu bahan utama yang digunakan. Yup, masakan ini menggunakan buah durian. Namun perlu digarisbawahi, durian yang digunakan di sini bukan durian segar yang siap dimakan, melainkan daging buah durian yang sudah busuk.

Bagi masyarakat Karo, mendapatkan durian segar dan durian busuk itu sama-sama membahagiakan. Durian segar yang manis dan legit tentu bisa langsung dinikmati. Sementara durian yang sudah busuk tidak dianggap sebagai limbah, melainkan diolah kembali menjadi masakan legendaris yang rasanya justru semakin menggugah selera.


Asam Durian: Kunci Cita Rasa Resep Legendaris

Durian yang sudah busuk akan menghasilkan rasa asam alami. Inilah kunci utama kelezatan Gulai Asam Durian. Rasa asam tersebut berasal dari proses fermentasi alami daging buah durian.

Masakan ini memang sangat digemari. Saat musim durian tiba, pasokan buah durian akan melimpah. Banyak buah yang tidak habis dimakan atau tidak habis dijual. Dari situlah masyarakat lokal mulai mengumpulkan sisa daging buah durian dan membiarkannya di suhu ruang.

Seiring waktu, daging buah durian akan mengalami perubahan rasa dari manis menjadi asam. Gula alami dalam durian akan berfermentasi menjadi alkohol dan asam asetat atau biasa disebut cuka. Proses fermentasi ini dipercepat oleh bakteri dan ragi alami dari lingkungan sekitar ketika daging buah terpapar udara terbuka.


Uniknya Asam Durian yang “Tak Pernah Rusak”

Hal yang paling unik dari asam durian ini adalah ketahanannya. Setelah melalui proses fermentasi, daging durian asam ini tidak memiliki batas waktu penyimpanan yang kaku. Tidak ada patokan harus dimasak dalam hitungan hari atau minggu tertentu.

Aku pribadi sering membeli asam durian di pasar tradisional di Medan, salah satunya di Pasar Pancur Batu yang ramai setiap hari Sabtu. Setelah sampai di rumah, biasanya asam durian langsung aku simpan di dalam kulkas. Pernah satu kali baru aku masak satu bulan kemudian, dan rasanya tetap enak.

Menurut aku, asam durian ini seperti bumbu masak yang “hidup”. Proses fermentasi membuat bakteri baik tetap bekerja, sehingga daging durian asam ini seolah tidak pernah benar-benar rusak. Inilah keajaiban kuliner tradisional yang diwariskan oleh leluhur kita.


Tempoyak dan Asam Durian Karo

Daging durian asam ini juga dikenal dengan nama tempoyak, yang berasal dari kearifan lokal masyarakat Melayu. Namun terdapat perbedaan antara tempoyak Melayu dan asam durian versi Karo.

Pada tempoyak Melayu, biasanya ditambahkan garam saat proses fermentasi. Sementara pada asam durian Karo, tidak ada penambahan apa pun. Fermentasi terjadi secara alami, murni dari daging buah durian yang dibiarkan di suhu ruang.

Aku tidak bisa mengklaim bahwa ini adalah kuliner khas Suku Karo sepenuhnya, karena tempoyak telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda dari Palembang pada tahun 2019. Namun sebagai bagian dari masyarakat lokal Suku Karo, aku sudah mengenal dan menikmati masakan ini sejak kecil, lebih dari 30 tahun yang lalu.


Rasa Rindu Kampung Halaman dalam Sepiring Gulai

Bahkan saat merantau dan tinggal di Jakarta, aku sering memasak Gulai Asam Durian ini. Bukan sekadar untuk mengenyangkan perut, tetapi untuk memuaskan rasa rindu akan masakan kampung halaman. Setiap aroma yang keluar dari wajan seolah membawa aku pulang ke masa kecil, ke dapur rumah, dan ke cerita-cerita keluarga.

Inilah kekuatan dari resep leluhur dan resep legendaris Indonesia. Ia bukan hanya soal rasa, tetapi juga soal ingatan, emosi, dan identitas.


Variasi Gulai Asam Durian

Gulai Asam Durian bisa dimasak dengan berbagai bahan utama, seperti:

  • Udang

  • Labu kuning

  • Daging babi

  • Ikan

Jarang sekali yang menggunakan ayam atau daging sapi.

Kali ini aku akan membagikan versi halal, yaitu Gulai Asam Durian Udang. Aku memilih hanya menggunakan udang tanpa tambahan labu kuning, karena saat tulisan ini dibuat aku tinggal di Medan dan menyesuaikan dengan selera keluarga.

Padahal secara pribadi, aku sangat menyukai gulai ini jika ditambahkan labu kuning. Rasa manis alami labu akan menyeimbangkan keasaman durian fermentasi, membuat rasanya semakin kompleks dan lezat. Namun manisnya udang pun tetap menjadi kombinasi yang pas.


Resep Gulai Asam Durian Udang

oleh Ayudelight

Bahan:

  • 250 gr asam durian

  • 1 kg udang, kupas dan bersihkan

  • 100 gr bawang merah

  • 5 siung bawang putih

  • 5 buah cabai rawit setan

  • 100 gr cabai merah keriting

  • Seruas jahe

  • 2 butir kemiri

  • 2 helai daun salam

  • 2 pasang daun jeruk

  • Seruas lengkuas

  • 2 batang serai

  • 50 gr gula merah

  • 2 liter santan kelapa encer

  • Garam dan penyedap rasa

Peralatan Masak:

  • Wajan besar yang cukup menampung 2 liter cairan.  


Cara Membuat:

  1. Haluskan bumbu: bawang merah, bawang putih, kemiri, jahe, cabai rawit, dan cabai merah keriting.

  2. Bumbu geprek: pipihkan lengkuas dan serai.

  3. Bumbu cemplung: siapkan daun salam dan daun jeruk.

  4. Panaskan wajan di atas kompor, beri secukupnya minyak.

  5. Tumis bumbu halus hingga harum, lalu masukkan bumbu geprek dan bumbu cemplung.

  6. Masukkan asam durian, aduk hingga tercampur rata dan matang.

  7. Tuang santan encer, aduk perlahan, lalu masukkan gula merah.

  8. Tunggu hingga mendidih.

  9. Setelah mendidih, masukkan udang, aduk rata.

  10. Koreksi rasa dengan menambahkan garam dan penyedap hingga mendapatkan kombinasi asam dan manis yang seimbang.

  11. Matikan api dan sajikan.

Resep Gulai Asam Durian

Gulai ini masih bisa dipanaskan kembali jika tidak habis. Tekstur udang memang akan sedikit lebih keras, namun rasanya tetap nikmat.


Resep Leluhur yang Tetap Relevan di Zaman Sekarang

Resep gulai ini sangat mudah dan cepat dibuat, apalagi jika bumbu sudah disiapkan sebelumnya. Tinggal digiling, dimasak, dan dinikmati.

Demikianlah resep leluhur yang hingga kini masih aku masak dan aku cintai. Sebuah resep legendaris Indonesia yang membuktikan bahwa kearifan lokal mampu bertahan melintasi zaman.

Jika kalian mencoba memasaknya di rumah, jangan lupa kabari aku di kolom komentar ya. Kalian juga bisa recook resep-resep aku yang lain di sini.

Yuk, berteman juga dengan aku melalui media sosial lainnya dengan nama yang sama: Ayudelight.

Sampai jumpa di resep berikutnya 🤍
Salam hangat,

Ayudelight

Komentar

Postingan Populer