Kuliner Legendaris Medan: Mie Pangsit Awai, Warisan Rasa Sejak 1948 yang Tak Lekang oleh Zaman 🍜 Kuliner Non Halal
Keliling Indonesia membuka mataku bahwa peradaban budaya manusia di setiap daerah memiliki kesan yang sangat kuat dan sulit dihilangkan. Budaya bukan hanya soal kebiasaan yang diwariskan, tetapi juga tentang kenangan jejak emosional yang ditinggalkan leluhur dari generasi ke generasi. Ada budaya yang masih relevan hingga kini, ada pula yang mungkin tak lagi sejalan dengan perkembangan zaman, namun semuanya tetap memiliki tempat tersendiri di hati para pewarisnya ❤️.
Aku percaya bahwa tradisi dan budaya tidak bisa dihancurkan oleh apa pun, bukan oleh bencana alam, bukan pula oleh perusakan fisik. Budaya hanya benar-benar hilang ketika manusia yang mengingat dan meneruskannya ikut lenyap. Pemikiran inilah yang sering membuatku merenung tentang betapa banyak warisan budaya turun-temurun yang perlahan ditinggalkan karena tidak ada lagi generasi yang melanjutkan. Sungguh sangat disayangkan 😔.
Padahal, meski sebuah budaya dianggap tidak relevan dengan zaman modern, ia tetap memiliki nilai penting sebagai penanda identitas. Dari sanalah generasi hari ini bisa mengetahui asal-usul mereka, memahami sejauh apa perjalanan yang telah ditempuh, serta belajar menghargai perjuangan para leluhur yang membangun masyarakat dan peradaban di masa lalu. Karena itu, aku ingin mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada generasi muda yang masih peduli, masih mau menulis, mendokumentasikan, dan menjaga budaya apa pun bentuknya agar tidak hilang ditelan waktu ✨.
Kuliner Sebagai Warisan Budaya yang Hidup 🍽️
Salah satu bentuk budaya yang paling dekat dengan kehidupan kita sehari-hari adalah kuliner tradisional. Makanan bukan sekadar pengisi perut, tetapi juga media penyampai cerita, identitas, dan sejarah. Setiap daerah memiliki kuliner khas yang menjadi kebanggaan masyarakat lokalnya, termasuk kuliner legendaris Medan yang terkenal kaya rasa dan sarat pengaruh budaya.
Kali ini, aku ingin bercerita tentang sebuah tradisi kuliner yang sudah sangat akrab bagi masyarakat lokal Sumatera Utara, khususnya Medan dan sekitarnya, yaitu Bakmi Pangsit non halal atau yang lebih sering kami sebut Mie Pangsit 🍜.
Di Sumatera Utara, bakmi versi non halal ini menjadi favorit lintas generasi. Dari anak-anak yang sudah bisa menikmati makanan bertekstur, hingga orang tua selama masih bisa mengunyah dengan nyaman. Mie Pangsit bukan sekadar makanan, melainkan bagian dari rutinitas hidup masyarakat lokal Medan.
Mie Pangsit Medan: Perpaduan Budaya Chinese dan Lokal 🥢
Sejak kecil, aku sudah sangat mengagumi mie legendaris yang satu ini. Rasanya selalu menghadirkan kebahagiaan sederhana, apalagi ketika Ibu pulang dari pasar sambil membawa sebungkus mie pangsit hangat. Aroma khasnya saja sudah cukup membuat perut keroncongan 🤤.
Daging babi kecap cincang
Babi angkak yang diiris tipis
Sayuran seperti sawi dan tauge
Telur rebus
Daun bawang dan bawang goreng
Dan tentu saja pangsit (dimsum) berisi daging babi, yang menjadi identitas utama mie ini
Sedangkan mangkuk kedua berukuran kecil berisi kuah sup bening yang rasanya ringan, segar, dan sangat sedap 😋.
Menariknya, mie pangsit di Medan memiliki kuah sup yang cenderung encer dan segar, sementara mie pangsit khas Siantar dikenal dengan kuahnya yang lebih kental, gurih, dan terasa seperti kolagen. Dari sinilah aku melihat bahwa asal-usul mie pangsit merupakan perpaduan harmonis antara budaya Chinese dan budaya lokal Sumatera Utara.
Mie Pangsit Awai: Kuliner Legendaris Medan yang Melewati Zaman 🏮
Kalau ditanya, aku lebih suka mie pangsit dengan kuah kental atau bening? Jawabanku: dua-duanya 😄. Karena bagi kami, warga lokal Medan, mie pangsit adalah menu andalan kapan saja untuk sarapan, makan siang, hingga makan malam. Bahkan saat ada acara komunitas atau kumpul-kumpul tertentu, mie pangsit sering menjadi menu utama yang dipesan bersama.
Aku berkunjung ke Mie Pangsit Awai yang beralamat di:
Mie Pangsit Awai pertama kali berdiri pada tahun 1948 di Kota Pematang Siantar, dan pada tahun 2002 mulai mengembangkan sayapnya ke Kota Medan. Karena berasal dari Siantar, tak heran jika kuah sup mie pangsit Awai cenderung kental dan gurih.
Bagi warga Medan, nama Mie Pangsit Awai mungkin sudah tidak asing lagi. Menariknya, di Jalan S. Parman ini juga terdapat restoran mie pangsit dengan nama serupa, yaitu Awai Lama, yang jaraknya hanya sekitar 5 meter saja. Awalnya aku mengira kedua tempat ini berada di bawah manajemen yang sama. Namun setelah bertanya langsung kepada karyawan, ternyata keduanya tidak memiliki hubungan sama sekali dan dikelola secara terpisah.
Sejarah Mie Pangsit Awai 📜
Sedikit menelusuri sejarahnya, pada tahun 1948, Mie Pangsit Awai bermula dari sebuah gerobak dorong sederhana yang dijalankan oleh Bapak Lou Yi di Pematang Siantar. Usaha ini kemudian diteruskan oleh putranya yang bernama Awai, hingga akhirnya berkembang dan dikenal luas seperti sekarang.
Cerita lengkap mengenai perjalanan panjang Mie Pangsit Awai ini bahkan bisa dibaca langsung di buku menu restorannya sebuah detail kecil yang menunjukkan betapa mereka menghargai sejarah dan akar budaya usaha ini ❤️.
Suasana Resto: Jadul, Unik, Tapi Modern 🪡
Begitu masuk ke restoran Mie Pangsit Awai, kesan pertama yang aku rasakan adalah modern namun penuh sentuhan nostalgia. Interiornya unik dan penuh karakter. Meja makan di restoran ini bahkan dibuat dari mesin jahit jadul, lengkap dengan pedal goyangnya. Sensasinya seru sekali terutama saat kaki kita menyentuh pedal mesin jahit tua di bawah meja 😆.
Dinding restoran dihiasi dengan berbagai ornamen jadul yang ditata rapi, menciptakan suasana hangat dan penuh cerita. Meski bernuansa klasik, tempat ini tetap terasa bersih, nyaman, dan modern.
Menu dan Porsi Mie Pangsit Awai 🍜
Menu di restoran ini tidak hanya terbatas pada mie pangsit saja, tetapi juga berbagai pilihan menu lainnya yang bisa dilihat di buku menu mereka.
Untuk mie pangsitnya sendiri, tersedia dalam tiga ukuran porsi:
Kecil
Sedang
Besar
Ukuran kecil biasanya cocok untuk anak-anak. Untuk perempuan dewasa sepertiku, porsi sedang sudah sangat mengenyangkan. Sementara bagi kalian yang punya selera makan besar, ukuran besar bisa jadi pilihan terbaik.
Aku memesan Mie Pangsit Awai ukuran sedang, dan benar saja, satu porsi ini sudah lebih dari cukup untuk membuat perutku puas. Apalagi aku menikmatinya bersama segelas Teh Tarik, minuman khas Medan yang manis dan creamy ☕.






















Komentar
Posting Komentar